GUA0GfA9TpA5GUGlTfYiGUG6TY==

Kalkulasi Kata: Menulis di Bawah Bayang-bayang Somasi

 

 

Penulis: Ken Savitri

 

                                               

Sebagai penulis artikel opini politik, berita mengenai langkah hukum Partai Demokrat terhadap sejumlah akun media sosial bukanlah kabar yang melegakan. Bukan karena penggunaan jalur hukum itu sendiri—yang tentu merupakan hak—melainkan karena pertanyaan yang mengikutinya. Pertanyaan tentang relasi antara hak hukum, kebebasan berekspresi, dan iklim diskursus politik yang sehat: Sampai sejauh mana kebebasan berekspresi dapat dijalankan dalam koridor hukum yang ada, tanpa kehilangan fungsi kritisnya dalam demokrasi?

Jauh sebelum saya mengirimkan artikel saya ke bukanpartaipolitik.com,  setiap kalimat saya periksa ulang. Bukan semata soal gaya, melainkan juga batas. Apakah tanggalnya tepat, apakah datanya akurat, apakah kutipan itu memang diucapkan oleh aktor politik yang bersangkutan. Kehati-hatian ini bukan pilihan estetis, melainkan kesadaran akan medan kuasa tempat tulisan opini bekerja.

Dalam ekosistem politik yang sensitif terhadap kritik, ketiadaan kartu pers atau nama besar bukan sekadar soal status, melainkan posisi. Di titik itu, penulis seperti saya sadar: suara boleh ada, tetapi daya tahannya, kalaupun ada, sangatlah terbatas. Tanpa banyak penyangga, satu ketidakhati-hatian dalam memilih kata tidak selalu berujung pada hilangnya suara, tetapi bisa berujung pada hilangnya kebebasan untuk bersuara.


Analisis yang berpijak pada teori ilmu sosial dan politik hampir selalu bersinggungan dengan aktor nyata. Dan teori, secara alamiah, tidak pernah sepenuhnya netral. Ia membaca pola, membongkar relasi kuasa, dan menempatkan tindakan politik dalam kerangka yang lebih luas. Namun justru karena itu, kritik struktural kerap terasa personal bagi mereka yang berada di dalamnya, meski ia tidak pernah dimaksudkan demikian.

Lalu bagaimana kita bergerak? Sampai sejauh mana rambu dan kewaspadaan internal benar-benar berfungsi sebagai perlindungan, dan sejak kapan keduanya mulai berubah menjadi pagar yang kita bangun sendiri? Ketika berhadapan dengan institusi atau kekuasaan non-negara yang besar seperti partai politik, apakah kehati-hatian masih menjadi alat bertahan, atau perlahan menjelma menjadi cara halus untuk membatasi diri?

Berbicara bebas tanpa kalkulasi bukanlah keberanian, melainkan kebodohan. Terlebih ketika dari posisi yang lemah, penggunaan instrumen hukum jarang terasa netral. Dalam situasi seperti itu, yang bisa kita lakukan barangkali hanya membekali diri dengan fakta, serta kemampuan mengolah kata yang menempatkan aktor-aktor politik sebagai bagian dari objek analisis, bukan sebagai sasaran personal.

Machiavelli mungkin akan berkata:  yang lemah tidak bertahan karena moralitasnya, tetapi karena kecermatannya membaca medan.
Dan dalam menulis opini politik hari ini, bertahan itu sendiri sudah menjadi tindakan politis.

Foto: Harian Surya

Komentar0

Type above and press Enter to search.