GUA0GfA9TpA5GUGlTfYiGUG6TY==

Legitimasi Kehadiran: Siapa Takut Ama Jokowi?

 

Legitimasi Kehadiran: Siapa Takut Ama Jokowi?

Ken Savitri 


Kehadiran masyarakat ke kediaman pribadi Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi), setelah ia tidak lagi menjabat, merupakan pemandangan yang tidak lazim dalam politik Indonesia pasca-Reformasi. Seorang mantan presiden umumnya beralih menjadi figur yang lebih banyak berperan di belakang layar. Namun dalam kasus Jokowi, perhatian publik terhadap dirinya tampaknya tidak surut seiring berakhirnya masa jabatan. Kehadirannya masih menjadi perhatian masyarakat, media, maupun para politisi.

Karena itu, sebelum bertanya siapa yang takut kepada Jokowi, mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana sebenarnya pengaruh politik Jokowi berasal?

Berbagai teori politik telah menjelaskan pengaruh yang lahir dari jabatan, partai, jaringan, maupun popularitas seorang pemimpin[i]. Namun penjelasan-penjelasan tersebut tampaknya belum sepenuhnya menjawab pertanyaan mengapa pengaruh politik tertentu dapat bertahan setelah kekuasaan formal berakhir.

Dari Sukarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono, jabatan presiden di Indonesia umumnya diisi oleh figur yang telah lebih dahulu berada dalam lingkungan elite politik, baik melalui partai politik maupun militer. Jalur menuju kekuasaan nasional biasanya melalui struktur yang relatif mapan dan sudah terorganisasi.

Di sisi lain, Jokowi datang dari jalur yang berbeda. Ia bukan jenderal, bukan pemimpin revolusi, bukan pendiri partai, dan bukan pula tokoh ideologis yang menawarkan gagasan politik besar. Karier politiknya justru dimulai dari posisi yang relatif biasa: seorang wali kota di Solo.

Dalam pemahaman klasik, legitimasi politik umumnya ditopang oleh partai, ideologi, wacana politik, maupun struktur organisasi yang menghubungkan pemimpin dengan warga. Namun pengalaman politik Indonesia dalam dua dekade terakhir menunjukkan kemungkinan adanya sumber legitimasi lain yang layak diperhatikan. Dalam tulisan ini, saya menyebutnya sebagai legitimasi kehadiran.

Legitimasi kehadiran merujuk pada bentuk legitimasi politik yang diperoleh melalui kehadiran fisik pemimpin secara langsung dan berulang di tengah masyarakat. Hubungan antara pemimpin dan warga tidak sepenuhnya dimediasi oleh partai, birokrasi, atau organisasi politik. Sebaliknya, legitimasi dibangun melalui pengalaman langsung masyarakat melihat, mendengar, dan berinteraksi dengan pemimpinnya.

Untuk kepentingan tulisan ini, legitimasi kehadiran tidak dipahami sebagai pengganti bentuk-bentuk legitimasi yang telah dikenal dalam literatur politik, melainkan sebagai salah satu mekanisme yang memperkuat hubungan antara pemimpin dan masyarakat melalui kehadiran langsung yang berulang.

Dalam konteks Jokowi, pola semacam ini mulai terlihat sejak ia memimpin Solo.

Pada 2012, Jokowi menempati peringkat ketiga dalam daftar wali kota terbaik di dunia menurut World Mayor Prize[ii]. Penghargaan ini banyak dicatat dalam pemberitaan internasional dan menunjukkan pengakuan atas praktik kepemimpinan yang dekat dengan warga. Salah satu praktik tersebut tampak dalam kunjungan langsung ke pasar dan berbagai ruang publik di Solo. Selain itu, Jokowi juga dikenal menggunakan pendekatan dialog langsung atau face-to-face dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam berbagai persoalan perkotaan. Dalam laporan mengenai relokasi pedagang kaki lima di Solo, BBC mencatat bahwa pendekatan dialog semacam ini digunakan dalam proses pemindahan ratusan pedagang tanpa bentrokan besar yang kerap diasosiasikan dengan penertiban serupa di daerah lain[iii].

Pola yang sama kemudian terlihat ketika Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta dan berlanjut setelah ia menjadi Presiden. Skala kekuasaannya berubah, tetapi pola legitimasi yang digunakan relatif tetap. Kehadiran di lokasi proyek, daerah terpencil, wilayah perbatasan, hingga kunjungan berulang ke Papua dapat dibaca sebagai bagian dari logika yang sama. Negara tidak hanya hadir melalui institusi, tetapi juga melalui kehadiran fisik pemimpinnya.

Karena itu, membahas Jokowi semata-mata melalui lensa partai politik sering kali menghasilkan penjelasan yang tidak lengkap. Partai tentu penting. Tanpa partai, Jokowi tidak akan mencapai posisi yang ia capai. Namun sumber legitimasi politik yang ia bangun tampaknya tidak sepenuhnya berasal dari partai.

Di sinilah muncul ketegangan yang menarik. Partai politik bekerja melalui organisasi, disiplin kader, dan struktur perwakilan. Sebaliknya, legitimasi kehadiran bekerja melalui hubungan yang lebih langsung antara pemimpin dan publik. Ketika seorang politisi berhasil membangun legitimasi semacam ini, sumber pengaruhnya menjadi lebih sulit dijelaskan hanya melalui kekuatan institusional partai.

Barangkali hal ini juga membantu menjelaskan mengapa popularitas pribadi Jokowi tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan elektoral partai yang mengusungnya. Basis dukungan personal seorang pemimpin dapat berbeda dari basis dukungan institusional partai, sehingga hubungan yang kuat dengan masyarakat tidak otomatis diterjemahkan menjadi kekuatan politik bagi partai yang menaunginya.

Salah satu indikasi bahwa pengaruh Jokowi tidak sepenuhnya bergantung pada partai adalah munculnya berbagai jaringan relawan yang berkembang di luar struktur partai formal. Relawan tentu bukan fenomena baru dalam politik Indonesia, tetapi skala dan keberlanjutannya pada kasus Jokowi menunjukkan adanya sumber mobilisasi politik yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui organisasi partai.

Keberadaan relawan sebenarnya bukan fenomena yang unik dalam politik Indonesia. Hampir setiap pemilihan presiden melahirkan berbagai organisasi relawan yang dibentuk untuk mendukung kandidat tertentu. Namun keunikan para relawan Jokowi adalah bahwa mereka justru menunjukkan daya tahan yang lebih panjang. Ketika organisasi relawan calon presiden biasanya kehilangan relevansi politik setelah pemilu berakhir atau kandidat yang didukungnya tidak lagi berkontestasi, sebagian jaringan relawan Jokowi justru tetap aktif, bahkan setelah masa jabatan presiden berakhir.

Fenomena dukungan personal yang tidak selalu sejalan dengan kekuatan partai pengusungnya juga merupakan hal yang lebih umum dalam sejarah pemilu langsung Indonesia. Sejak pemilu langsung diperkenalkan, terdapat kecenderungan bahwa dukungan terhadap calon presiden tidak selalu sebanding dengan dukungan terhadap partai politik pengusungnya. Pada Pemilu 2004, misalnya, Partai Demokrat memperoleh sekitar 7,45 persen suara nasional[iv], sementara Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan pemilihan presiden dengan dukungan mayoritas dalam putaran kedua[v]. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara basis dukungan personal dan basis dukungan institusional dalam sistem pemilu langsung.

Dampak yang lebih luas dari legitimasi kehadiran ini adalah perubahan ekspektasi publik terhadap kepemimpinan politik. Setelah dua dekade terakhir, masyarakat tampaknya tidak lagi hanya menilai pemimpin dari pidato, program, atau identitas partainya. Kehadiran langsung di lapangan menjadi bagian dari standar baru yang diharapkan publik.

Tentu saja legitimasi kehadiran bukan tanpa kelemahan. Kehadiran fisik tidak selalu identik dengan penyelesaian masalah. Kunjungan ke suatu daerah tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Namun tujuan tulisan ini bukan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan suatu kebijakanm melainkan untuk memahami bagaimana bentuk legitimasi tersebut bekerja dan memengaruhi praktik politik Indonesia.

Mungkin karena itulah fenomena Jokowi tetap relevan untuk dibahas setelah masa jabatannya berakhir. Sebab, pengaruh politik yang dimilikinya tampaknya tidak hanya sepenuhnya bersumber dari legitimasi yang melekat pada jabatan-jabatan formal yang pernah dipegangnya, namun juga berasal dari hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun melalui kehadiran yang berulang di ruang publik.

Karena itu, pertanyaan yang paling menarik bukanlah siapa yang takut kepada Jokowi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah politik Indonesia sedang menyaksikan lahirnya bentuk legitimasi baru yang tidak sepenuhnya bertumpu pada partai, ideologi, atau karisma klasik, melainkan pada sesuatu yang lebih sederhana: kehadiran langsung seorang pemimpin di tengah masyarakat.

 



[i]Lihat antara lain Max Weber, Economy and Society; Pierre Bourdieu, The Forms of Capital; Robert D. Putnam, Bowling Alone; serta Maurice Duverger, Political Parties, untuk pembahasan mengenai legitimasi, modal sosial, dan peran partai politik dalam pembentukan pengaruh politik.

 

[ii]Waluyo, Andylala, “Jokowi, Raih Penghargaan Walikota Terbaik Ketiga Dunia”, VOA, 08/81/2013, https://www.voaindonesia.com/a/jokowi-raih-penghargaan-walikota-terbaik-ketiga-dunia/1579686.html

 

[iii]BBC Indonesia, “Memimpin Solo ala Jokowi”, 04/08/2011,

 https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2011/08/110804_tokohjokowidodo

 

[iv]Detiknews, “Inilah Hasil Pemilu Legislatif 2004”, 05/05/2004, https://news.detik.com/berita/d-155421/inilah-hasil-pemilu-legislatif-2004

 

[v]Wikipedia, “Pemilihan Umum Presiden Indonesia 2004”, https://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_Presiden_Indonesia_2004

 

Gambar: RRI 

Komentar0

Type above and press Enter to search.