GUA0GfA9TpA5GUGlTfYiGUG6TY==

Makan Bergizi Gratis: Di Antara Angka dan Keberhasilan

 

Makan Bergizi Gratis:

Di Antara Angka dan Keberhasilan

 Ken Savitri

Sejak diluncurkan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah diiringi berbagai kontroversi, mulai dari mekanisme penetapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kasus keracunan makanan di sejumlah daerah, hingga perdebatan mengenai ketepatan sasaran penerima manfaat.

Kontroversi tersebut bertambah dengan munculnya dugaan tindak korupsi di lingkungan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN),[1] yang kini menjadi sorotan publik.

Di samping itu, MBG juga memiliki dimensi politik yang kuat karena posisinya sebagai salah satu program unggulan pemerintah saat ini. Hal ini turut membuat diskusi mengenai masa depan program, termasuk apakah perlu dilanjutkan, menjadi semakin terbuka.

Tulisan ini tidak akan membahas kontroversi tersebut. Saya ingin mengajak pembaca mendiskusikan pertanyaan lain yang justru jarang dibahas secara mendalam: bagaimana sebenarnya keberhasilan program MBG diukur?

Kita seringkali membaca berita mengenai jumlah penerima manfaat, jumlah dapur yang beroperasi, atau jumlah porsi makanan yang telah dibagikan. Informasi seperti ini penting untuk menggambarkan skala pelaksanaan program.

Yang justru jarang ditemukan adalah data mengenai indikator untuk menilai keberhasilan program MBG itu sendiri. Salah satu studi awal mengenai evaluasi MBG telah dilakukan di Jakarta Timur pada dua sekolah menengah atas. Namun, cakupannya masih terbatas sehingga belum dapat menggambarkan outcome program secara menyeluruh.[2]

Lalu, bagaimana sebenarnya indikator keberhasilan suatu program diukur?

Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan melihat bagaimana program publik biasanya dievaluasi. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah Results-Based Management (RBM) atau Manajemen Berbasis Hasil, yaitu pendekatan manajemen yang berfokus pada hasil yang dicapai suatu program, bukan hanya pada kegiatan yang dilakukan.[3]

Dalam RBM, hasil langsung yang dihasilkan oleh suatu program (output) dibedakan dari perubahan yang terjadi pada penerima manfaat sebagai akibat dari program tersebut (outcome).

Dalam konteks MBG, makanan yang diterima siswa merupakan output. Sedangkan perubahan pada kondisi gizi, kesehatan, kemampuan belajar, atau kualitas sumber daya manusia yang diharapkan dari program tersebut merupakan outcome.

Dengan kata lain, jumlah makanan yang dibagikan bukanlah tujuan akhir program, melainkan sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Karena itu, ketika membahas keberhasilan MBG, pertanyaan yang perlu diajukan tidak berhenti pada berapa banyak penerima manfaat yang telah dijangkau, berapa banyak SPPG yang telah beroperasi, atau berapa juta porsi makanan yang telah dibagikan.

Sebaliknya, kita perlu bertanya lebih lanjut: apa yang berubah setelah program tersebut dijalankan?

 

Apakah status gizi anak membaik? Apakah angka anemia menurun? Apakah tingkat kehadiran siswa meningkat? Apakah kemampuan belajar mereka mengalami perbaikan? Dan dalam jangka panjang, apakah kualitas kesehatan dan sumber daya manusia Indonesia benar-benar meningkat?

Di sinilah tantangan evaluasi MBG mulai terlihat.

Sebagian besar informasi yang tersedia untuk publik saat ini masih berada pada tingkat output. Publik relatif mudah memperoleh data mengenai jumlah penerima manfaat, perluasan cakupan program, atau jumlah dapur yang beroperasi.

Namun informasi mengenai outcome jauh lebih terbatas.

Akibatnya, penilaian terhadap keberhasilan maupun kegagalan MBG lebih sering didasarkan pada jumlah yang disalurkan (output), bukan pada perubahan yang dihasilkan (outcome). Sebagian pihak menganggap program ini berhasil karena telah menjangkau jutaan penerima manfaat. Sebagian lainnya menganggap program ini gagal karena berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaannya.

Padahal kedua kesimpulan tersebut mungkin masih terlalu dini.

Program yang menjangkau jutaan penerima manfaat belum tentu menghasilkan perubahan yang signifikan pada kondisi penerima manfaat. Sebaliknya, program yang menghadapi berbagai persoalan operasional juga belum tentu gagal mencapai tujuan akhirnya.

Karena itu, permasalahan seperti korupsi, keracunan makanan, tata kelola SPPG, maupun ketepatan sasaran tetap penting untuk dibahas. Namun, hal tersebut tidak seharusnya mengesampingkan pertanyaan mengenai manfaat MBG bagi penerimanya.

Terlepas dari perdebatan mengenai kelanjutan MBG, bagaimana keberhasilan program ini diukur tetap menjadi pertanyaan kunci. Tanpa ukuran yang jelas, kita hanya akan mengetahui seberapa besar program ini dijalankan, bukan seberapa besar manfaat yang dihasilkannya. Sementara itu,  alokasi sebesar Rp335 triliun untuk tahun anggaran 2026[4] merupakan jumlah yang besar, yang menuntut adanya ukuran hasil yang jelas sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Di sinilah pentingnya peran BGN dan masyarakat sipil dalam mendorong instansi terkait untuk secara berkala mempublikasikan capaian program MBG, sehingga evaluasi program dapat dilakukan secara lebih terukur.

Karena pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah berapa banyak yang telah disalurkan, melainkan apakah program ini benar-benar menghasilkan perbaikan gizi dan kualitas sumber daya manusia sebagaimana yang menjadi tujuan utamanya. Mengingat besarnya anggaran yang dialokasikan, keberlanjutan program ini hanya dapat dibenarkan apabila manfaat tersebut dapat dibuktikan.

 



[1]Nicholas Ryan Aditya dan Danu Damarjati, “Kejagung Tetapkan Tersangka Ke-5 Korupsi MBG: Andri Mulyono”, Kompas.com, 12 Juni 2026, https://nasional.kompas.com/read/2026/06/12/18573781/kejagung-tetapkan-tersangka-ke-5-korupsi-mbg-andri-mulyono?page=all

[2]Akbar Fitradtya Priyono, Stanislaus Riyanta, Eko Daryanto “Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam Pendekatan Kerawanan Pangan Siswa SMAN 42 dan SMAS Angkasa 1 di Jakarta Timur”, Jurnal Impresi Indonesia. Maret 2026. https://www.researchgate.net/publication/401637283_Evaluasi_Program_Makan_Bergizi_Gratis_MBG_dalam_Pendekatan_Kerawanan_Pangan_Siswa_Sman_42_dan_SMAS_Angkasa_1_di_Jakarta_Timur

Namun, cakupan penelitian ini terbatas pada dua sekolah di Jakarta Timur sehingga temuan yang diperoleh belum dapat digeneralisasikan untuk menggambarkan outcome program MBG pada tingkat nasional.

[3]UN-Habitat, “Results-Based Management Handbook”, Annex 2: RBM Terminology, https://unhabitat.org/results-based-management/annexes

[4]Kementerian Keuangan RI (di bawah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat itu) mengalokasikan anggaran makan bergizi gratis (MBG) sebesar Rp 335 triliun pada 2026. Anisa Indriani, “Anggaran MBG Rp 335 T di 2026, Tak Semua ke BGN”, detikFinance, 21 Agustus 2025, https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8072348/anggaran-mbg-rp-335-t-di-2026-tak-semua-ke-bgn

 Gambar: Antara News

 

 

Komentar0

Type above and press Enter to search.