GUA0GfA9TpA5GUGlTfYiGUG6TY==

Calumny Dan Tuduhan Politik di Ruang Publik

 

Calumny Dan Tuduhan Politik di Ruang Publik

 Ken Savitri


Sering kali kita membaca mengenai disinformasi, fitnah, ujaran kebencian, atau fake news. Istilah-istilah tersebut terasa sangat akrab dalam perdebatan mengenai ruang publik hari ini.

Persoalan mengenai tuduhan yang berkembang di luar mekanisme institusional bukanlah sesuatu yang baru. Lima abad yang lalu, Niccolò Machiavelli telah membahas persoalan tersebut dalam “Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (Discourses: Upon The First Ten (Books) of Titus Livy)”, melalui pembedaan antara accusation dan calumny, yaitu antara tuduhan yang masuk ke dalam mekanisme institusional (accusation) dan tuduhan yang berkembang di ruang publik (calumny).[1]

Tetapi tidak setiap tuduhan, fitnah, atau pencemaran nama baik merupakan calumny. Lalu, kapan sebuah tuduhan dapat disebut sebagai calumny?

Carlo Varotti dalam “Accuse e calunnie”, Enciclopedia Machiavelliana menjelaskan bahwa perhatian Machiavelli terhadap persoalan ini terutama berpusat pada persoalan institusi.[2] Varotti kemudian memperluas pemahaman mengenai accusation dan calumny. Ia menempatkan keduanya dalam persoalan yang lebih fundamental, yaitu pelembagaan perbedaan pendapat (dissenso):

“...Tema accusation dan calumny karena itu dapat dipahami sebagai bagian khusus dari persoalan yang secara konseptual lebih fundamental, yaitu pelembagaan perbedaan pendapat (dissenso): bagaimana memberikan ruang bagi “umori” (aspirasi, gairah, kepentingan) yang bergerak di dalam masyarakat, dengan mencegah ekspresi tersebut berkembang dalam bentuk-bentuk non-institusional dan karena itu bersifat destabilizing, seperti protes jalanan yang tidak terkendali dan rentan untuk berubah menjadi kerusuhan/chaos (dalam leksikon Machiavelli: “tumulto” beserta istilah-istilah turunannya)...”

Sebagaimana accusation memiliki fungsi bagi negara, maka calumny justru membawa dampak yang merusak bagi negara. Dengan demikian, persoalannya bukan apakah perbedaan pendapat boleh disampaikan di ruang publik. Justru sebaliknya, sebuah negara membutuhkan ruang bagi perbedaan pendapat. Persoalannya adalah bagaimana perbedaan tersebut memperoleh saluran yang memungkinkan ia diperdebatkan, diuji, dan diselesaikan tanpa berkembang menjadi bentuk konflik yang destabilizing.

Machiavelli membuat perbedaan tersebut dengan jelas.[3] Accusation dibawa kepada magistrat dan disertai dengan pembuktian. Calumny, sebaliknya, tidak memiliki mekanisme yang sama. Dalam accusation, tuduhan masuk ke dalam mekanisme institusional yang memungkinkan pembuktian dan pembelaan. Dalam calumny, mekanisme tersebut tidak tersedia bagi pihak yang menjadi sasaran, karena pihak yang menyebarkannya tidak harus membuktikan apa yang dikatakannya. Bahkan secara terang-terangan, Machiavelli mengatakan bahwa calumny adalah sesuatu yang pernicious atau, kalau memakai bahasa Gen Z: nggak ada obatnya. Karena begitu calumny menyebar, meskipun fakta yang sebenarnya kemudian ditemukan, reputasi sudah tercoreng.

Di sinilah calumny menjadi lebih dari sekadar persoalan reputasi seseorang. Ketika persoalan yang berkembang di ruang publik menyentuh institusi negara, political cost tidak lagi hanya ditanggung oleh individu yang menjadi sasaran. Reputasi dan kredibilitas institusi yang ikut terseret ke dalam persoalan juga dapat ikut dipertaruhkan, sementara pihak yang memperoleh perhatian, memengaruhi agenda perdebatan, atau menggalang dukungan dapat memperoleh political capital.

Namun seperti halnya energi dalam termodinamika, political capital tidak muncul begitu saja; setiap modal politik yang diperoleh membawa konsekuensi yang harus ditanggung.

Bukan hanya memperoleh political capital, pihak yang membawa sebuah isu ke ruang publik pada saat yang sama juga akan mempertaruhkan political capital yang dimilikinya. Semakin besar klaim dan dukungan yang dibangun melalui sebuah isu, semakin besar pula risiko politik yang harus ditanggung apabila persoalan tersebut kemudian diuji melalui mekanisme institusional. Namun persoalannya tidak berhenti sampai di situ. Karena kita berpikir dalam kerangka bernegara, kita tidak boleh menutup mata terhadap kemungkinan adanya pihak ketiga, baik institusi, partai politik, maupun pihak-pihak yang memiliki kepentingan ekonomi. Dan seringkali kepentingan dan konsekuensi pihak ketiga tersebut dapat bergerak jauh melampaui dua pihak yang tampak berhadapan di ruang publik.

Salah satu faktor penting yang membedakan antara accusation dan calumny adalah ‘arena’ tempat tuduhan tersebut dibahas. Sebagai tempat berkembangnya calumny, ruang publik tidak memiliki kontrol yang sama dengan magristrat/system yudikasi. Akibatnya, ruang publik dapat berubah menjadi ruang reproduksi tuduhan. Ketika sebuah klaim memperoleh perhatian terutama karena daya provokasinya, sementara pemeriksaan dan koreksi tidak berjalan dengan baik, tuduhan dapat terus berkembang bahkan sebelum kebenarannya diuji.

Apa yang dahulu berkembang melalui piazza dan logge, kini mendapatkan tempatnya di media sosial dan media massa, yang jangkauan dan kecepatannya mungkin tidak atau belum pernah dibayangkan oleh Machiavelli sendiri.

Di sinilah reputasi media massa juga menjadi bagian dari political cost. Media yang memberikan ruang kepada klaim tanpa mekanisme pembuktian yang memadai tidak hanya berisiko memengaruhi reputasi pihak yang menjadi sasaran, namun juga kredibilitas media itu sendiri dapat ikut dipertaruhkan. Pada saat yang sama, kualitas diskursus publik mengalami konsekuensi yang lebih sulit diukur.

Ketika sebuah tuduhan terus berkembang di ruang publik tanpa melalui mekanisme pembuktian dan koreksi yang memadai, calumny tidak lagi menjadi persoalan yang hanya menyangkut individu. Dampaknya dapat meluas pada diskursus publik itu sendiri.

Ketika Persoalan Menjadi Nyata

Kerangka tersebut dapat kita lihat dalam persoalan yang telah berkembang menjadi perkara nyata, yaitu polemik mengenai ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (Gibran).

Pada permasalahan ijazah Presiden ke-7, calumny yang berkembang di ruang publik bukan hanya berakibat pada reputasi dan legitimasi Jokowi sebagai mantan presiden dan politisi. Persoalan tersebut juga menyeret reputasi pihak-pihak yang terkait dengannya, seperti kepolisian, kejaksaan, kelembagaan pemilu, dan institusi peradilan.

Ketika persoalan dugaan ijazah palsu Jokowi kemudian berlanjut ke kasus pencemaran nama baik yang dilaporkannya, perdebatan bukannya berakhir, namun malah justru bertambah ramai. Dan ketika Roy Suryo kemudian mengajukan praperadilan yang prosesnya tidak kunjung berakhir, muncul pula pertanyaan mengenai apakah mekanisme tersebut tidak menunjukkan adanya celah hukum yang perlu diperbaiki. Bahkan, sejumlah pihak kemudian mempertanyakan hal tersebut kepada Mahkamah Agung.

Pada titik ini, political cost tidak lagi hanya ditanggung oleh individu yang menjadi sasaran. Ia berkembang menjadi institutional cost.

Persoalan yang sama dapat dilihat dalam sayembara mengenai ijazah SMA Gibran yang diluncurkan oleh Denny Indrayana.[4] Sayembara tersebut menawarkan hadiah bagi siapa pun yang dapat menunjukkan ijazah asli SMA atau sederajat milik Gibran. Namun, jika dilihat lebih lanjut, sayembara ini bukan lagi semata-mata persoalan pribadi, tetapi juga menyangkut persoalan institusional, karena ijazah bukan hanya merupakan produk suatu institusi, ditambah lagi status dan kualifikasi pendidikan Gibran juga berkaitan dengan sistem pendidikan dan mekanisme administratif yang berbeda.

Ketika persoalan yang secara teknis membutuhkan penjelasan tersebut dibawa ke ruang publik dalam bentuk klaim yang lebih sederhana, persoalannya dengan mudah berubah menjadi pertarungan narasi.

Dalam perkara ini, reputasi yang dipertaruhkan bukan hanya milik Gibran. Reputasi Denny Indrayana (DI) sendiri turut dipertaruhkan. Pada satu sisi, struktur tersebut tampaknya tidak menimbulkan risiko politik yang besar bagi DI. Jika tuduhan terbukti, pihak yang menjadi sasaran menanggung konsekuensi politik yang besar; jika tidak terbukti, DI hanya menyatakan tidak akan membicarakan tentang ijazah lagi.

Namun, jika ditelaah lebih jauh, political cost bagi pihak yang membawa sebuah isu ke ruang publik, dalam hal ini DI, tidak selalu muncul dalam bentuk konsekuensi langsung. Ia juga dapat muncul dari kredibilitas, legitimasi, dan posisi politik yang dipertaruhkan ketika klaim yang dibawanya kemudian diuji.

Yang pertama, DI sedang mempertaruhkan political capital-nya sendiri. Semakin besar klaim dan dukungan yang dibangun melalui sebuah isu, semakin besar pula risiko politik yang harus ditanggung apabila persoalan tersebut kemudian diuji melalui mekanisme institusional. Terlebih lagi, political cost yang dipertaruhkan DI tidak hanya berasal dari klaim yang ia bawa, tetapi juga dari posisi dirinya sendiri di ruang publik. Status tersangka yang masih melekat dalam perkara payment gateway membuat setiap persoalan baru yang ia bawa berpotensi kembali dibaca dalam konteks rekam jejak hukumnya[5].

Yang kedua, sebuah sayembara dapat memberikan perhatian dan visibilitas politik kepada penyelenggaranya, tetapi pada saat yang sama menempatkannya dalam posisi untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dibawanya ke ruang publik. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika sayembara juga menghimpun dana dari publik.[6] Dalam keadaan demikian, penyelenggara tidak hanya memperoleh political capital, tetapi juga memikul tuntutan transparansi mengenai sumber dana, pengelolaannya, dan pertanggungjawabannya.

Political capital dengan demikian tidak pernah benar-benar gratis. Perhatian publik, dukungan politik, bahkan dukungan finansial yang berhasil dihimpun melalui suatu isu semuanya menciptakan konsekuensi. Semakin besar modal yang diperoleh dari ruang publik, semakin besar pula political cost dan tuntutan akuntabilitas yang mungkin mengikuti.

Pada akhirnya, inilah yang membuat pembahasan Machiavelli mengenai calumny tetap relevan. Dalam ruang publik modern, mekanismenya tidak berubah. Yang berubah adalah skala, kecepatan, dan daya jangkaunya. Itulah mengapa Machiavelli menyebut calumny sebagai pernicious: sesuatu yang berbahaya dan merusak, terutama karena efek buruknya berlangsung secara bertahap atau tidak selalu langsung terlihat. Dan ketika kerusakan itu terjadi, kita mungkin tidak lagi, atau belum memiliki mekanisme yang cukup untuk mengembalikan situasi dan kondisi seperti semula.


Artikel: Ken Savitri
Gambar: Fitnah.com

[1]Niccolò Machiavelli, “Discourses: Upon The First Ten (Books) of Titus Livy”, 1571.

 

[2]Carlo Varroti, “Accuse e calunnie”, Enciclopedia Machiavelliana (2014), Treccani.

 

[3]Niccolò Machiavelli, “Discourses: Upon The First Ten (Books) of Titus Livy: Chapter VIII: AS MUCH AS ACCUSATIONS ARE USEFUL TO A REPUBLIC, SO MUCH SO ARE CALUMNIES PERNICIOUS”, 1571.

[4]Denny Indrayana, “Sayembara Rp. 100.000.000 Untuk Ijazah Mas Gibran”, https://www.youtube.com/watch?v=stHW32NdPSY

[5]Admin JHN, “Mangkrak 10 Tahun! Apa Kabar Kasus Korupsi Rp32 Miliar Denny Indrayana “, 25 Juli 2026, Jejak Hukum Nusantara. https://jejakhukumnusantara.com/nasional/mangkrak-10-tahun-apa-kabar-kasus-korupsi-rp32-miliar-denny-indrayana/

[6]Yohanes Antonius Kopong Corebima, “Siapa Bohir di Balik Sayembara Ijazah Gibran yang Dibuat Denny Indrayana?”, Jakarta, 14 Agustus 2026, Olenka, https://olenka.id/siapa-bohir-di-balik-sayembara-ijazah-gibran-yang-dibuat-denny-indrayana

 

 

Komentar0

Type above and press Enter to search.