GUA0GfA9TpA5GUGlTfYiGUG6TY==

FOTO DAN JEBAKAN MORAL DI BALIKNYA

 

Foto dan Jebakan Moral di Baliknya

 Ken Savitri

Masihkah ada yang ingat Kevin Carter?

Mungkin tidak. Tetapi banyak orang masih mengingat fotonya: seorang anak yang kelaparan, merangkak menuju pusat makanan, sementara seekor burung pemakan bangkai berdiri di belakangnya.

Foto itu, The Vulture and the Little Girl[i], dibuat Carter di Sudan pada 1993 dan kemudian memenangkan Pulitzer Prize for Feature Photography pada 1994. Namun foto itu juga memicu pertanyaan moral terhadap sang fotografer: mengapa ia memotret anak itu, dan apa yang dilakukannya setelah menekan tombol kameranya?

Beberapa hari terakhir beredar sebuah foto yang cukup viral. Seorang gadis kecil tertidur di lantai jembatan penyeberangan, dikelilingi kucing jalanan, sementara di belakangnya berdiri spanduk besar bertuliskan “Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur” lengkap dengan angka 81.[ii]

Saya bukan bermaksud membandingkan foto tersebut dengan karya Carter. Saya juga tidak berniat mempertanyakan apa yang pemotret lakukan setelah dia mengunggah foto tersebut ke media sosial.

Bagi sebagian orang, foto ini dianggap “menyentuh”, “menggugah”, dan “mengingatkan kita pada kenyataan pahit”. Bagi saya, foto ini terasa murah. Bukan karena kemiskinan itu tidak penting, melainkan karena cara penyampaiannya terlalu mudah, terlalu on-the-nose, dan terlalu bergantung pada ironi yang dipaksakan.

Sebagai seseorang yang menggemari fotografi, saya sering merasa curiga ketika sebuah gambar sudah “berteriak” sedemikian keras. Komposisinya rapi, elemen-elemennya saling mendukung, dan pesan moralnya langsung menempel ke wajah penonton. Tidak ada ruang untuk ambiguitas. Tidak ada lapisan. Hanya kontras yang sengaja ditampilkan agar langsung memicu rasa iba atau marah.

Masalahnya bukan pada keberadaan orang yang tidur di jalanan. Masalahnya ada pada cara kita merespons dan mengemasnya.

Tanpa spanduk di belakangnya, foto tersebut mungkin hanyalah salah satu pemandangan keseharian di beberapa tempat. Seseorang tidur di ruang publik, sesuatu yang mungkin bahkan dilewati begitu saja tanpa banyak orang peduli. Dengan adanya spanduk tersebut, foto itu berubah. Ia bukan lagi sekadar dokumentasi tentang seseorang yang tidur di jalanan, melainkan sebuah argumen politik visual.

Kontras antara seseorang yang tidur di lantai dan slogan “Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur” sudah menyusun pesan politiknya.

Memangnya ada yang tidak tahu bahwa di Indonesia masih ada kemiskinan? Keberadaan satu orang yang tidur di jalanan bukanlah penemuan tentang sebuah kenyataan yang selama ini tersembunyi. Tetapi ketika tubuh seseorang ditempatkan tepat di depan atau di bawah slogan tentang kemakmuran, foto tersebut dengan mudah berubah menjadi sebuah argumen politik.

Masalahnya, argumen itu terlalu mudah. Kemiskinan adalah persoalan yang kompleks. Keberadaan satu orang miskin tidak dengan sendirinya menjelaskan kebijakan apa yang gagal, bagaimana kondisi kemiskinan secara keseluruhan, atau apa yang sebenarnya terjadi di balik gambar tersebut. Namun semua kompleksitas itu dapat hilang dalam sebuah ironi visual yang langsung dapat dipahami: ada orang tidur di lantai, sementara di belakangnya berdiri janji tentang keadilan dan kemakmuran.

Foto semacam ini sering berfungsi sebagai alat virtue signaling. Ia tidak benar-benar mengajak orang berpikir lebih dalam tentang struktur kemiskinan, kebijakan publik, atau kondisi sosial yang kompleks. Ia hanya menyediakan kesempatan mudah bagi orang untuk merasa sudah “peduli” hanya dengan menyukai, membagikan, atau menulis komentar “miris banget ya Tuhan”.

Lebih dari itu, foto seperti ini menciptakan jebakan moral yang cukup efektif. Jika kamu berani mengkritik cara foto itu dibuat, misalnya dengan mengatakan bahwa foto tersebut terasa terlalu dramatis atau eksploitatif, maka kamu langsung berisiko dituduh “tidak berperasaan”, “tidak punya empati”, atau “tidak peduli dengan rakyat kecil”.

Padahal dua hal itu sama sekali berbeda.

Seseorang bisa saja peduli terhadap persoalan kemiskinan, tapi tetap merasa bahwa foto ini adalah karya yang murahan. Seseorang bisa mengakui bahwa masih banyak warga yang hidup sulit, tapi menolak untuk merayakan cara penyajian yang terasa seperti konten emosional murah. Namun di ruang publik yang sudah terpolarisasi secara moral, perbedaan itu sering tidak diperbolehkan. Kritik terhadap bentuk dianggap sama dengan pengingkaran terhadap isi.

Foto semacam ini tidak hanya menyampaikan pesan, tapi juga dapat mengontrol cara orang meresponsnya. Kita hanya disuguhi dua pilihan: ikut merasa miris, atau mempertanyakan fotonya dan dianggap tidak punya hati.

Saya memilih untuk tidak ikut meratap. Bukan karena saya tidak melihat masalahnya, melainkan karena saya menolak cara yang terlalu mudah dan terlalu emosional dalam membicarakannya. Ironi yang dipaksakan, framing yang terlalu sempurna, dan reaksi massal yang terasa otomatis, justru membuat isu tersebut kehilangan bobotnya.

Kemiskinan memang nyata. Tapi tidak semua cara menampilkan kemiskinan otomatis menjadi bermakna. Ada yang justru mereduksinya menjadi sekadar bahan konten.

 

Penulis : Ken Savitri
Foto     : Wikipedia

[i]Wikipedia, “The Vulture and The Little Girl”, https://en.wikipedia.org/wiki/The_Vulture_and_the_Little_Girl

 

[ii]Ardianto Satriawan, Postingan di x, https://x.com/ardisatriawan/status/2091130940345155587/photo/1

 

Komentar0

Type above and press Enter to search.