AHY Berdiri di Dua Kursi
Setidaknya ada dua kerangka pemikiran dalam pidato Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di depan anggota Partai Demokrat pada acara ulang tahun ke 25, pada tanggal 5 September 2026 di Gedung DPP Partai Demokrat, Jakarta,[i] yang cukup menarik untuk dianalisis.
Yang pertama adalah
kerangka pemikiran di bidang ekonomi.
AHY menyebutnya “ekonomi
naik kelas”. Ia berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, hilirisasi,
digitalisasi, konektivitas, pemerataan, dan UMKM yang naik kelas.[ii]
Itu suatu pilihan kosa
kata yang menarik, mengingat bahasa yang digunakan sangat dekat dengan narasi
pemerintah saat ini. Padahal jika dilihat pada masa pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY), Demokrat memiliki kebijakan ekonomi yang cukup signifikan dan
berbeda.
Di samping kebijakan
fiskal yang konservatif, salah satu kerangka kebijakan ekonomi yang digunakan
oleh Presiden SBY waktu itu adalah triple track strategy, yaitu pro growth, pro
job, dan pro poor. Pertumbuhan ekonomi ditempatkan bersama penciptaan lapangan
pekerjaan dan pengurangan kemiskinan.[iii]
Dalam kerangka tersebut,
dunia usaha ditempatkan sebagai salah satu penggerak pertumbuhan karena
menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan pada
akhirnya memperluas kesejahteraan. Karena itu, pemerintah tidak hanya dituntut
menjaga stabilitas, tetapi juga menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui
kebijakan yang pro business dan pro pasar, termasuk insentif dan pelonggaran
pajak.[iv]
Kerangka tersebut
sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi AHY. Ketika menjadi Komandan Komando
Tugas Bersama (tim pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno yang didukung Partai
Demokrat pada Pemilu 2019), ia sendiri pernah membawa gagasan pelonggaran pajak
untuk mendorong pertumbuhan dan menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif.
Saat itu AHY mengatakan bahwa pengurangan dan pelonggaran pajak diperlukan di
tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat dan belum kuatnya pemulihan sektor
riil. Ia juga menyebut pentingnya insentif fiskal, terutama bagi dunia bisnis,
untuk menciptakan investasi besar besaran. Masih menurut AHY, investasi akan
menggerakkan sektor riil, meningkatkan ekspor, pendapatan dan daya beli,
sehingga ekonomi dapat tumbuh kembali.[v]
Namun ketika berbicara
mengenai ekonomi pada pidato di hari ulang tahun ke-25 Partai Demokrat, gagasan
tersebut tidak muncul. Bahkan persoalan pajak dan Koperasi Desa (Kopdes) tidak
disinggung ketika AHY berbicara mengenai bagaimana Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dapat naik kelas.
Secara teori, menjadikan
UMKM sebagai bagian dari rantai pasokan, baik melalui Kopdes maupun minimarket,
tentu terdengar baik. Persoalannya adalah bagaimana rantai pasokan tersebut
diawasi. Tanpa pengawasan yang memadai, masuknya barang barang murah dari luar
negeri, terutama dari China, dapat semakin memperlemah daya saing UMKM yang
kemampuan produksinya belum memadai.
Perlindungan kepada
pengusaha kecil yang diberikan negara melalui Perpres 112/2007, yang lahir pada
masa pemerintahan SBY, kini sudah tidak berlaku lagi setelah dicabut melalui PP
3 Tahun 2026. Sangat disayangkan bahwa AHY tidak menyatakan dukungannya terhadap
masukan APKLI mengenai perlunya perlindungan bagi pedagang kecil di tengah
perkembangan ritel modern.[vi]
Mengenai dukungan
terhadap pembangunan ekonomi atau pembangunan secara keseluruhan, AHY
menyelipkan kritik yang menurut penulis sangat cantik.
Ketika AHY berkata,
“Kebijakan yang sungguh baik bagi rakyat harus kita dukung dan kawal. Yang
belum sempurna kita bantu perbaiki,” ia juga mengingatkan bahwa kebijakan harus
melihat kenyataan yang dihadapi rakyat.
Tanpa perlu menjadi
oposisi, Demokrat mampu mengambil posisi yang berseberangan sekaligus tetap
menjadi pendukung pemerintah. Di sini tersirat adanya loyalitas, namun juga
memberi ruang bagi Demokrat untuk mengatakan bahwa tidak semua kebijakan
pemerintah otomatis benar dan karenanya harus didukung tanpa adanya kritik.
Ini posisi yang jarang,
mengingat dunia politik kita lebih sering diisi oleh mereka yang pro dan
kontra, tanpa memberi ruang bagi mereka yang berada di garis tengah untuk
didengar.
Sebagai pendukung awal
Demokrat, penulis sebenarnya berharap AHY dan terutama Demokrat mengurangi
penggunaan istilah istilah yang digunakan oleh pemerintahan saat ini, namun
kembali membawa gagasan ekonomi yang pernah menjadi ciri kebijakan SBY,
terutama dalam kebijakan perekonomian dan pajak.
Kerangka pemikiran
kedua, yaitu kerangka pemikiran politik, posisi AHY jauh lebih ambigu.
Pernyataan AHY mengenai
demokrasi, hukum, dan pemilu adalah sebuah pernyataan politik. Hal ini tentu
wajar, bahkan diharapkan, mengingat Demokrat adalah sebuah partai politik.
Namun bagaimana dengan
posisi AHY? Apakah ia sedang berbicara sebagai ketua Partai Demokrat, atau
sebagai bagian dari pemerintahan?
Pada saat ini, Partai
Demokrat merupakan bagian dari koalisi pemerintahan, sementara AHY sendiri
menduduki posisi sebagai Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan
Kewilayahan dalam Kabinet Prabowo Subianto.
Di sinilah konsep
strategic ambiguity dari Bräuninger dan Giger bisa dicoba untuk membaca pidato
tersebut, meskipun tidak sepenuhnya tepat. Dalam tulisan mereka, Strategic
Ambiguity of Party Positions in Multi-Party Competition, Bräuninger dan Giger
membahas bagaimana partai politik dapat menggunakan pesan yang ambigu untuk
menjangkau kelompok pemilih yang berbeda.[vii] Dalam kasus AHY, ambiguitasnya bukan terletak
pada pesan yang disampaikan, melainkan pada sasarannya.
Kepada siapa AHY
sebenarnya berbicara?
Jika tidak ditujukan
kepada siapapun, apakah pernyataan ini hanyalah pernyataan normatif?
Penulis melihat adanya
empat kemungkinan.
1. Pertanyaan ditujukan
kepada sesama anggota koalisi pemerintahan.
Jika demikian, kritik mengenai netralitas
aparat, penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan politik praktis, dan
pentingnya checks and balances tentu menjadi menarik.
Selama dua tahun
pemerintahan Prabowo, berbagai persoalan telah muncul. Sementara itu,
pernyataan Demokrat selama ini lebih banyak berupa dukungan dan pengawalan
terhadap pemerintahan. Apakah ini merupakan perubahan sikap Demokrat, ataukah
hanya pengingat normatif kepada sesama anggota koalisi?
2. Jika yang dimaksud
adalah partai politik di parlemen yang berada di luar pemerintahan. Dalam hal
ini, PDI-P (110 kursi) dan NasDem (66 kursi).
Tetapi dengan kekuatan
Demokrat yang relatif kecil di parlemen, yaitu 44 kursi, apakah AHY berada
dalam posisi yang cukup kuat untuk mengingatkan partai politik lain?
Dan jika dilihat dari
survei terakhir, elektabilitas AHY juga belum terlalu tinggi. Dalam survei
Tempo Data Science yang dirilis pada akhir Agustus 2026, elektabilitas AHY
berada pada angka 3 persen.[viii] Dengan posisi elektoral seperti itu, apakah AHY
berada dalam posisi yang cukup kuat untuk mengingatkan partai politik lain?
3. Kemungkinan
berikutnya adalah kekuatan politik di luar parlemen
Pernyataan tersebut
mungkin saja dilancarkan kepada Jokowi dan PSI, yang tengah membangun kekuatan
mereka. Namun mempertanyakan keinginan Jokowi untuk melanjutkan kekuasaannya
akan menempatkan AHY, baik sebagai pribadi maupun sebagai ketua partai politik,
dalam situasi yang tidak menguntungkan. Bagaimanapun, SBY dan Demokrat memiliki
posisi yang sama dengan Jokowi dan PSI. Keduanya merupakan mantan presiden, dan
kedua partai merupakan kendaraan politik bagi keduanya.
4. Kepada anggota Partai
Demokrat sendiri.
Dalam pidatonya AHY
meminta kader Demokrat yang berada di pemerintahan untuk menggunakan kekuasaan
sebagai amanah dan kader di parlemen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
Jika demikian, bagaimana
prinsip tersebut diterapkan ketika yang mendapat sorotan justru kader Demokrat
sendiri?
Yang menarik bukan hanya
persoalan yang mereka hadapi, tetapi juga bagaimana partai meresponsnya.
Respons Demokrat terhadap kadernya ternyata tidak selalu sama. Dalam kasus
tertentu, partai mengambil jarak dengan menegaskan bahwa tanggung jawab kader
berada pada jabatan publik yang diembannya.[ix] Dalam kasus lain, partai justru memberikan
teguran[x] hingga pemberhentian.[xi]
Setelah berbicara kepada
kadernya, AHY kemudian memperluas pembicaraan kepada persoalan demokrasi. Ia
berbicara mengenai netralitas TNI, Polri, intelijen, penegak hukum, dan ASN. Ia
juga menyinggung penggunaan fasilitas negara, perlakuan yang adil terhadap
peserta pemilu, hak rakyat untuk memilih dan dipilih, serta pentingnya checks
and balances.
Di bagian ini, sasaran
pidatonya menjadi semakin sulit ditentukan. Pernyataan tersebut dapat dibaca
sebagai prinsip yang ditujukan kepada siapa pun yang memegang kekuasaan. Tetapi
AHY sendiri sedang berada di dalam pemerintahan. Jika prinsip tersebut juga
berlaku bagi pemerintahan tempat ia berada, apakah pernyataan itu merupakan
kritik terhadap pemerintah, atau justru pengingat bagi dirinya sendiri sebagai
bagian dari pemerintah?
Itu merupakan posisi
yang menarik untuk diamati, jika memang Demokrat memutuskan untuk mengambil
jalan tersebut. Tentu tidak akan mudah. Namun mungkin sudah saatnya bagi
Demokrat untuk memperhitungkan segala sesuatunya.
Don’t play safe, or
don’t play at all.
Isi : Ken Savitri
Gambar: MUslimah Times
[i] Pidato Politik Ketum Partai Demokrat, Memajukan Ekonomi, Menegakkan Keadilan, Menjaga Demokrasi, https://www.youtube.com/watch?v=sKmwlTmLIY0
[ii] Moh. Rizky dan Adiantoro, Dukung Agenda Ekonomi Prabowo, AHY: Pertumbuhan Harus buat Rakyat Ikut Naik Kelas, nTV news, 6 September 2026, https://www.ntvnews.id/ekonomi/01117770/dukung-agenda-ekonomi-prabowo-ahy-pertumbuhan-harus-buat-rakyat-ikut-naik-kelas
[iii] Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, PEMBUKAAN MUSYAWARAH NASIONAL VIII ASOSIASI PENGUSAHA INDONESIA, DI ISTANA NEGARA, 26 Maret 2008, https://www.setneg.go.id/baca/index/pembukaan_musyawarah_nasional_viii_asosiasi_pengusaha_indonesia_di_istana_negara_tanggal_26-03-08
[iv] ibid.
[v] Tsarina Maharani, AHY: Saat Ekonomi Lambat, Pajak Perlu Dilonggarkan Bukan Digenjot, detikNews, 11 Maret 2018, https://news.detik.com/berita/d-3910624/ahy-saat-ekonomi-lambat-pajak-perlu-dilonggarkan-bukan-digenjot
[vi] KemenkopUKM, APKLI Adukan Dampak Ritel Modern, Menkop Dukung Perkuat Perpres 112/2007, 10 Maret 2006, https://kop.go.id/read/apkli-adukan-dampak-ritel-modern-menkop-dukung-perkuat-perpres-112-2007
[vii] Thomas Bräuninger and Nathalie Giger, “Strategic Ambiguity of Party Positions in Multi Party Competition,” Political Science Research and Methods, Vol. 6, No. 3 (2018), hlm. 527–548. DOI: 10.1017/psrm.2016.18. https://www.cambridge.org/core/journals/political-science-research-and-methods/article/strategic-ambiguity-of-party-positions-in-multiparty-competition/D0D301CD53950B2D7C9BC6B492D413B1
[viii] Tempo, Survei Tempo: Elektabilitas Dedi Mulyadi Lampaui Prabowo, 26 Agustus 2026, https://www.tempo.co/politik/survei-dedi-mulyadi-lewati-prabowo-2283971
[ix] Ketika Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo yang berasal dari Demokrat terlibat polemik mengenai surat perjalan dinas hingga mutasi, Dewan Pakar Partai Demokrat Syarif Hasan mengatakan setiap kebijakan Dody sebagai Menteri PU maka pertanggungjawabannya kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Hardani Triyoga dan Amin Suciady, Kontroversi Dody Hanggodo Bergulir, Elite Demokrat: Menteri Bertanggung Jawab ke Presiden, Owrite, 21 Juli 2026, https://www.owrite.id/politik/2026/07/21/kontroversi-dody-hanggodo-bergulir-elite-demokrat-menteri-bertanggung-jawab-ke-presiden/
[x] Menanggapi masalah yang menjerat kader Partai Demokrat dari Sumatera Barat, DPD Demokrat Sumbar menyebut perkara tersebut sebagai persoalan pribadi, bahkan menegaskan bahwa kasusnya terjadi sebelum Beni bergabung dengan Demokrat. Kiki Julnasri, Demokrat Sumbar Angkat Bicara Soal Beni Saswin, Tegaskan Hormati Proses Hukum, Kata Sumbar, 20 Juni 2026
[xi] Sementara itu, dalam kasus Ade Asmara
anggota DPRD Muaro Jambi yang berasal dari Partai Demokrat, yang terlibat dalam
kasus dugaan ‘Reses fiktif’ diberhentikan dengan resmi dari keanggotaan partai,
Cicitvambi, Ade Asmara Dipecat Demokrat, Proses
PAW Anggota DPRD Muaro Jambi Berjalan, 29 Juli 2026,
https://www.cicitvjambi.com/2026/07/29/ade-asmara-dipecat-demokrat-proses-paw-anggota-dprd-muaro-jambi-berjalan/
.gif)

Komentar0